hATiiiiiiii

Hati terdiri atas bermacam-macam sel. Organ hati dari suatu organisme juga mengandung berbagai macam organel yang juga mengandung berbagai senyawa seperti kandungan protein yang terkandung didalam sel hati tikus. Protein yang terdapat dalam suatu organel tidak dapat dilihat dengan mata telanjang ataupun mikroskop biasa, namun dapat diidentifikasi atau dianalisis dengan berbagai metode. Protein terbentuk dari asam gabungan-gabungan asam amino yang terdiri dari dua atau lebih asam amino. Protein ini terbentuk dengan gabungan dua asam amino dengan menghilangkan gugus HOH atau air yang terdapat pada asam amino, dimana gugus OH yang lepas adalah gugus yang berasal dari asam karboksilat, dan H yang lepas berasal dari gugus amina (Hart 2003).

Selain itu, hati adalah pabrik zat kimia yang penting dalam tubuh. Hati bertugas menyimpan kelebihan gula alias glukosa. Glukosa ini dikeluarkan tubuh ketika tubuh membutuhkan energi. Hati juga memproduksi albumin, cairan empedu, kolesterol, faktor pembeku darah, globin, dan faktor-faktor kekebalan tubuh. Albumin merupakan protein yang mengatur pertukaran air antara darah dan jaringan. (Anonim 2010)

PROTEIN…

Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti “yang paling utama”) adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.

Analisis protein dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu secara kualitatif terdiri atas reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi Millon, reaksi Nitroprosida, dan reaksi Sakaguchi. Secaran kuantitatif terdiri dari; metode Kjeldahl, metode titrasi formol, metode Lowry, metode spektrofotometri visible (Biuret), metode spektrofotometri UV,dan metode Bradford.

Percobaan yang dilakukan berhubungan dengan uji kuantitas protein. Maka metode yang bisa digunakan adalah metode Bradford dan Lowry. Dibandingkan dengan metode Bradford, metode Lowry tidak lebih baik dari Metode Bradford. Meskipun begitu, metode ini banyak digunakan karena sifatnya yang dapat diterima untuk memperkirakan protein dalam hampir segala situasi dalam campuran atau crude protein ekstrak yang terlibat. Tetapi, jika sampel yang kita gunakan mengandung protein kurang dari 0,01 mg/ml maka metode yang paling tepat digunakan adalah metode Bradford karena kesensitivitasan metode ini sangat baik dibandingkan metode Bradford. Oleh sebab itu, metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode Bradford.

KROMATOGRAFI….

Kromatografi merupakan  salah satu metode pemisahan komponen-komponen campuran dimana cuplikan berkesetimbangan di antara dua fasa, fasa gerak yang membawa cuplikan dan fasa diam yang menahan cuplikan  secara selektif. Pemisahan dengan kromatografi didasarkan pada perbedaan kesetimbangan komponen-komponen campuran di antara fasa gerak  ( fasa mobil ) dan fasa diam. Kesetimbangan ini dapat dijelaskan secara kuantitatif dengan istilah koefisien partisi. ( Sumar 1994 )

Kromatografi juga merupakan suatu istilah umum yang digunakan untuk bermacam-macam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu rasa gerak yang bisa berupa gas ataupun cair dan rasa diam yang juga bisa berupa cairan ataupun suatu padatan. Penemu Kromatografi adalah Tswett yang pada tahun 1903, mencoba memisahkan pigmen-pigmen dari daun dengan menggunakan suatu kolom yang berisi kapur (CaSO4). lstilah kromatografi diciptakan oleh Tswett untuk melukiskan daerah-daerah yang berwarna yang bergerak kebawah kolom. Pada waktu yang hampir bersamaan, D.T. Day juga menggunakan kromatografi untuk memisahkan fraksi-fraksi petroleum, namun Tswett lah yang pertama diakui sebagai penemu dan yang menjelaskan tentang proses kromatografi. (Johnson dan Steven 1978)

Penyelidikan tentang kromatografi kendor untuk beberapa tahun sampai digunakan suatu teknik dalam bentuk kromatografi padatan cair (LSC). Kemudian pada akhir tahun 1930 an dan permulaan tahun 1940 an, kromatografi mulai berkembang. Dasar kromatografi lapisan tipis (TLC) diletakkan pada tahun 1938 oleh Izmailov dan Schreiber, dan kemudian diperhalus oleh Stahl pada tahun 1958. Hasil karya yang baik sekali dari Martin dan Synge pada tahun 1941 (untuk ini mereka memenangkan Nobel) tidak hanya mengubah dengan cepat kroinatografi cair tetapi seperangkat umum langkah untuk pengembangan kromatografi gas dan kromatografi kertas. Pada tahun 1952 Martin dan James mempublikasikan makalah pertama mengenai kromatografi gas. Diantara tahun 1952 dan akhir tahun 1960 an kromatografi gas dikembangkan menjadi suatu teknik analisis yang canggih.

Kromatografi cair, dalam praktek ditampilkan dalam kolom gelas berdiameter besar, pada dasamya dibawah kondisi atmosfer. Waktu analisis lama dan segala prosedur biasanya sangat membosankan. Pada akhir tahun 1960 an, semakin banyak usaha dilakukan untuk pengembangan kromatografi cair sebagai suatu teknik mengimbangi kromatografi gas. High Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi Cair Penampilan Tinggi atau High Preformance = Tekanan atau Kinerja Tinggi, High Speed = Kecepatan Tinggi dan Modern = moderen) telah berhasil dikembangkan dari usaha ini. Kemajuan dalam keduanya instrumentasi dan pengepakan kolom terjadi dengan cepatnya sehingga sulit untuk mempertahankan suatu bentuk hasil keahlian membuat instrumentasi dan pengepakan kolom dalam keadaan tertentu. Tentu saja, saat ini dengan teknik yang sudah matang dan dengan cepat KCKT mencapai suatu keadaan yang sederajat dengan kromatografi gas. (Johnson dan Steven 1978)

Kromatografi sering digunakan oleh para ilmuwan. Mereka menggunakannya untuk menganalisis, mengidentifikasi, memurnikan, dan mengukur suatu campuran.( Phillips, J. Griffiths, dan Jones 1952).